Rabu, 30 November 2011

Atomisme Logis Bertrand Russel

Pendahuluan
Serangan Balik Terhadap Idealisme

Dalam perkembangan sejarah filsafat Barat, terdapat dua aliran besar yang mendominasi pemikiran kefilsafatan. Keduanya adalah filsafat idealisme yang pusat perkembangannya di Jerman dan Empirisme di Inggris. Pertentangan dua aliran ini terjadi bertahun-tahun sejak akhir abad 18.[1]
Tetapi pada pertengahan abad 19, ketika sudah tak lagi begitu populer di negeri asalnya, idealisme mulai masuk dan perlahan mendominasi di Inggris, dengan sebutan neo-idealisme.
Pada abad 20 neo idealisme menjadi sangat dominan di Inggris. Hal ini merupakan respon atau reaksi atas materialisme dan positifisme yang berakar kuat sebelumnya di sana.
Menurut aliran idealisme, realitas itu terdiri atas ide-ide, pikiran-pikiran, akal, jiwa dan bukannya benda-benda material. Idealisme menyatakan bahwa mind atau jiwa adalah yang real. Sementara materi merupakan produk sampingan dari mind.
Idealisme juga menekankan bahwa realitas dasar terdiri atas ide, pikiran dan jiwa. Hubungan ketiganya sangat erat. Dan itulah realitas yang sesungguhnya. Dunia diartikan berlainan dari apa yang tampak indera. Segalanya ditafsirkan dengan hukum-hukum pikiran dan kesadaran.[2]
Seorang penganut idealisme yang memiliki pengaruh besar di Inggris adalah Francis Herbert Bradley (1846-1924). Ia mengungkapkan pendapatnya tentang hubungan antara pemikiran dengan realitas, yang merupakan kritik sangat keras terhadap teori pengenalan dari paham empirisme.
Menurut Bradley, metode pengenalan empirisme sebenarnya bersifat psikologis. Di samping itu mereka bekerja dengan ide-ide dan sama sekali tidak dengan putusan atau keterangan-keterangan (proposisi-proposisi). Ide, sebagaimana dimaksud kalangan empirisme adalah isi dari pikiran. Kaum empiris tertarik pada asal-usul pikiran kita.
Namun di tepi lain, proposisi itu bukan merupakan isi dari pikiran kita, melainkan pernyataan-pernyataan tentang dunia atau realitas, yakni sesuatu itu adalah sedemikian rupa ditangkap oleh pikiran.
Menurut Bradley, metode kaum empiris itu merupakan kesalahan. Mereka kurang memperhatikan keputusan (judgements) atau proposisi. Hal inilah yang menjadi sasaran kritik kaum idealisme, dan pada kenyataannya hal inilah yang merupakan perbedaan mendasar antara Immanuel Kant dengan David Hume.
Sebagai salah-satu reaksi atau serangan balik atas kondisi tersebut, muncullah neo realisme. Tokoh-tokoh penting aliran ini di antarana, George Edward Moore, Alfred Nort Whitehead, dan Samuel Alexander. Menyusul kemudian Bertrand Rusell dan beberapa filsuf dari lingkungan Wina seperti Ludwig Wittgeinstein, dan Alfred Yulles Ayer
Corak dan cara berpikir dari neo realisme ini berbeda jauh dari neo hegelianisme. Mereka menaruh perhatian besar terhadap penyelidikan terhadap linguistik dan logika analisa dari istilah-istilah, konsep-konsep, dan preposisi-preposisi. Hal ini tentu saja berbeda dengan neo idealisme, yang mana mengakui bahwa dunia ini adalah satu kesatuan mutlak yang tak terbagi-bagi.
Bisa dikatakan, aliran neo realisme ini merupakan serangan balik dari aliran pemikiran filsafat yang telah lama berkembang di Inggris. Karena memang, secara tak langsung, gerakan dari kelompok neo realisme ini berkatian dengan tradisi empirisme-materialisme, yang berakar dari pemikiran Jhon Locke, David Hume, dan John John Stuart Mill.
Neo realisme ingin menjauhkan diri dari implikasi metafisika dan konsep pluralisme yang dikembangkan oleh para penganut neohegelianisme. Mereka meninjau kembali metode analisa bahasa. Orientasi filsatatnya diarahkan pada penyelidikan bahasa. Akhirnya muncullah istilah-istilah seperti, empirisme logis, positivisme logis, neopositivisme, analisa linguistik, analisa semantik, filsafat bahasa dan filsafat analitik.[3] Istilah yang terakhir merupakan salah-satu yang populer dalam perkembangan filsafat abad 20.
Filsafat analitis lahir sebagai respon atas kerancuan dan permasalahan dalam menjelaskan dan menguraikan ungkapan-ungkapan filosofis. Dengan kata lain, filsafat analitis digunakan untuk membahas, menjelaskan dan memecahkan masalah filsafat dengan menggunakan analisa bahasa, ataupun melalui analisis linguistik.
Salah-satu teori dalam filsafat analitis adalah atomisme logis. Istilah ini dinisbatkan pada dua filsuf Anglo-Saxon, Ludwig Wittgenstein dan Bertran Russel.
Pemikiran atomisme logis lebih dulu telah dikembangkan Ludwig Wittgenstein dalam karyanya “Tractatus Logico Philosophicus”. Namun nama dari aliran atomisme logis ini pertama kali dikemukakan oleh Bertrand Russell dalam suatu artikelnya yang dimuat dalam “Contemporary British Philosophy” yang terbit pada tahun 1924.
Nama atomisme logis yang digunakan oleh Bertrand Russell menunjukkan pengaruh dari David Hume dalam karyanya “An Enguiry Concerning Human Understanding”.[4]
Sedikit mengulas hubungan Russel dan Witgenstein. Keduanya adalah sahabat sejaman. Wittgeinstein adalah murid Russel yang cemerlang. Namun demikian, di beberapa waktu, Russel mengaku sebagai murid Wittgeinstein.
Mengenai atomisme logis yang dikembangkan keduanya, sebenarnya memiliki perbedaan. Tetapi jika dipandang dari pendekatannya terdapat kesamaan yang signifikan.[5] Karena itu, dalam makalah ini, akan difokuskan pada atomisme logis-nya Bertrand Russel.

Riwayat Hidup Bertrand Russell

Sebelum memulai pembahasan lebih dalam, tak ada salahnya mengingat riwayat hidup sang filsuf yang bernama lengkap Bertrand Arthur William Russell ini. Ia lahir di Monmouthshire, Inggris, pada 18 Mei 1872 dari keluarga bangsawan.
Orang tua Russel meninggal ketika ia masih kecil. Karenanya, ia tinggal dan dididik oleh neneknya. Ia belajar matematika dan fisika di Trinity College di Cambridge. Selain itu ia juga pernah mengajar di Cambridge dan kemudian di Amerika. Tetapi ia lebih di kenal melalui kegiatan – kegiatan non akademisnya daripada melalui kuliah – kuliahnya di universitas.
Selain sebagai ahli matematika, Russell dikenal sebagai seorang filsuf, dan juga sastrawan, politikus, serta pejuang perdamaian. Banyak buku yang pernah ia tulis, ia juga pernah menerima nobel untuk sastra. Russell meninggal pada usianya 98 tahun di Inggris.[6]


Atomisme Logis Bertrand Russell

Bertrand Russell merupakan seorang penganut empirisme yang mengikuti jejak John Locke dan David Hume. Sehingga dari konsep filosofisnya tampak garis-gariss filsafat empirisme.
Sebagaimana di tertera di atas, nama atomisme logis yang dipilih oleh Russel menunjukkan adanya pengaruh dari David Hume dalam An Enguary Concerning Human Understanding. Struktur atomisme logis-nya Russell diilhami konsep Hume tentang susunan ide-ide dalam pengenalan manusia.
Menurut Hume semua ide yang kompleks itu terdiri dari ide-ide yang sederhana atau ide yang atomis, yang merupakan ide terkecil. Hume percaya bahwa filsuf itu hendaknya melakukan analisis psikologis terhadap ide.
Pada kaitan tersebut, atomisme psikologis Hume ditolak oleh Russell. Menurutnya, yang seharusnya dianalisis bukan pada aspek psikologis, melainkan dilakukan terhadap proposisi-proposisi.[7]
Dalam menyusun logika atomisme logisnya, tampak pada Russel pengaruh Bradley, dimana realitas itu terwujudkan dalam suatu bahasa yang merupakan suatu proposi-proposisi. Logika atomisme Russell juga merupakan empirisme yang didasarkan pada putusan-putusan atau proposisi dan bukan atas ide-ide. Bisa dikatakan, formulasi logika Russell memanfaatkan pemikiran idealisme Bradley.
Namun Russell menolak dengan keras pandangan metafisik dari idealisme. Sebab pemikiran Russell memang tidak didasarkan atas pandangan metafisik, melainkan formulasi logika. Dan menurutnya, logikalah yang paling fundamental dalam filsafat.
Suatu kelabihan dari konsep pemikiran atomisme logisnya Russell adalah ia mampu membuat sintesis berbagai macam pemikiran dari para filsuf sebelumnya maupun filsuf sejamannya.
Atomisme logis yang dikembangkan oleh Russel bertitik tolak dari tiga poin, yang menurutnya menjadi tujuan filsafat. Ketiga tujuan tersebut ialah, pertama, filsafat memiliki tujuan mengembalikan seluruh ilmu pengetahuan kepada bahasa yang paling padat dan sederhana. Tugas filsafat ialah merumuskan pandangan yang mendasari semua ilmu khusus, yakni merumuskan dengan jelas sintesisnya.
Kedua, menghubungkan logika dan matematika. Russell menghendaki, dalam dunia pendidikan, antara ilmu eksak dan sastra tidak dipisahkan. Menurutnya, logika dan tata bahasa tidak hanya penting untuk bahasa, melainkan juga merupakan dasar bagi matematika.
Ketiga, tujuan filsafat adalah analisis bahasa. Ini merupakan titik puncak dari tujuan filsafat Russell, yakni mencari pengetahuan yang benar. Sebab dengan melakukan analisis yang benar, maka akan didapat pengetahuan yang benar pula tentang realitas.
Tiga tujuan di atas merupakan landasan dan arah prinsipil untuk memahami filsafat atomisme logis.
Di samping itu, filsafat harus melukiskan jenis-jenis fakta yang ada. Seperti zoologi yang bertugas menentukan jenis-jenis binatang. Fakta yang dimaksud ialah ciri-ciri atau relasi-relasi yang dimiliki oleh benda-benda.
Sudah nyata kiranya bahwa fakta-fakta tidak dapat bersifat benar atau salah. Yang dapat bersifat benar atau salah adalah proposisi-proposisi yang mengungkapkan fakta-fakta. Dengan kata lain, proposisi merupakan simbol dan tidak merupakan bagian dari dunia. Suatu proposisi yang terdiri dari kata-kata, yang menunjukkan pada data inderawi (sense-data) dan universalia, yaitu ciri-ciri atau relasi-relasi.
Kerena suatu proposisi atomis mengungkapkan suatu fakta atomis, Russell  menyimpulkan bahwa bahasa sepadan dengan dunia. Bahasa melukiskan realitas. Melalui bahasa kita menemukan fakta-fakta jenis mana yang ada.
Tapi harus ditekankan di sini, yang dimaksud Russell dengan bahasa bukanlah bahasa biasa, melainkan bahasa yang sempurna, yang sama sekali terlepas dari kedwiartian dan kekekaburan. Bahasa logis atau bahasa logika yang dirumuskannya dalam karyanya Principia Mathematica.[8]
Menurut Russell, bahasa logika akan sangat membantu terhadap aktivitas analisis bahasa. Ia berkeyakinan bahwa teknik analisis bahasa yang didasarkan pada bahasa logika akan mampu melukiskan hubungan antara struktur bahasa dan struktur realitas.[9]
Russell mengkritik George Edward Moore, yang menganjurkan untuk memakai bahasa biasa sebagai alat analisis. Moore mendasarkan analisisnya pada common sense atau akal sehat. Ia beranggapan bahwa bahasa sehari-hari atau bahasa alamiah kiranya telah memadai untuk berfilsafat.[10]
Bagi Russel hal itu tidak tepat, karena tujuan filsafat tak hanya mengkritisi ungkapan-ungkapan para filsuf neo hegelianisme, tetapi juga bermaksud membangun corak filsafat saintifik.
Bahasa biasa, menurut Russel, memiliki sususan yang buruk. Selain itu juga banyak yang mengandung makna ganda. Jika kita tetap bersikeras menggunakan bahasa biasa sebagai alat analisa, maka ini akan menjadi penghalang besar bagi kemajuan filsafat.[11]
Prinsip analisis yang diterapkan Russel dalam konsep atomisme logisnya memiliki konsekuensi dirumuskannya ungkapan bahasa yang memiliki formulasi logis. Dengan kata lain, perlu ditentukan formulasi logis dalam ungkapan bahasa.
Russel mengungkapkan, problema filsafat muncul justru karena  keterbatasan bahasa sehari-hari dan penyimpangan  penggunaan bahasa dalam filsafat. Hal ini dikarenakan kurang dipahaminya formulasi logika dalam ungkapan-ungkapan bahasa. Struktur gramatika belum tentu dapat menentukan struktur logis dari suatu ungkapan bahasa.
Menurut Russell, ada suatu kalimat yang memiliki struktur gramatikal yang sama namun berbeda dalam hal struktur logisnya. Misalnya kalimat Lions are yellow dan Lions are real. Kedua kalimat itu memiliki struktur gramatikal yang sama. Namun struktur logisnya berbeda.[12]
Dalam hal ini, Russell menginginkan penggunaan metode saintifik untuk cara kerja filsafat. Ia berharap dengan begitu, filsafat menjadi bercorak ilmiah.
Selanjutnya, tugas filsafat pada dasarnya merupakan analisis logis yang diikuti sintesis logis tentang fakta. Yang dimaksud dengan analisis logis tentang fakta ialah pemikiran yang didasarkan pada metode deduksi untuk mendapatkan argumentasi apriori. Sedangkan sintesis logis tentang fakta ialah suatu proses menentukan makna pernyataan atas dasar empirik. Hal itu dengan sendirinya, kita akan melahirkan suatu pengetahuan yang baru.
Russell mendahulukan analisis logis karena menurutnya, teori yang didasarkan pada fakta-fakta yang bersifat empirik tak akan dapat menjangkau pengetahuan yang bersifat universal.
Dengan metode di atas, Russell hendak menyusun teori atomisme logisnya dengan berijak pada bahasa logika. Dengan bahasa logika itulah ia melakukan kerja analisis bahasa bagi bahasa filsafat untuk mendapatkan apa yang disebutnya sebagai atom-atom logis atau proposisi atomis.
Selanjutnya Russell menentukan apa yang disebut dengan corak logis yang terkandung dalam suatu ungkapan atau proposisi. Ini dimaksudkan agar tak terjadi penyimpangan-penyimpangan dalam bahasa filsafat, sebagaimana yang terjadi dalam ungkapan-ungkapan kaum neohegelianisme. Menurut Russell, penyimpangan yang terjadi dalam bahasa filsafat lebih banyak ditimbulkan oleh ketidakpahaman terhadap bahasa logika sebagai bahasa ideal filsafat.[13]
Lewat cara tersebut, Russell telah mampu memecahkan sejumlah paradoks yang telah membingungkan para filsuf sejak zaman Sokrates. Untuk lebih jelasnya, ambillah misal ketika seorang mengatakan, semua orang Indonesia suka berbohong, padahal dia sendiri adalah orang Indonesia. Otomatis ungkapan tersebut mengandung sebuah kebohongan. Ungkapan tersebut tidak benar.
Menurut Russell, contoh ungkapan seperti di atas ialah suatu kelas proposisi. Keterangan itu merupakan suatu proposisi dari kelas yang lebih tinggi. Untuk memecahkannya, Russel membedakan antara semua unsur yang termasuk dalam suatu himpunan, yang tidak dengan sendirinya merupakan himpunan itu sendiri.[14]
Kemudian berdasarkan konsep bahasa logika dan corak logis itu, Russell menerangkan tentang kesepadanan antara dunia bahasa dan dunia realitas, antara struktur bahasa dengan struktur masyarakat.
Baginya, seluruh pengetahuan akan dapat diungkapan jika menggunakan bahasa logika. Itulah analisis yang benar, yang akan menghasilkan pengetahuan yang benar pula tentang realitas, hakikat sesuatu dari dunia. Sebab, unsur terkecil dari bahasa, yakni proposisi atomis, pada dasarnya merupakan proposisi atomik tentang dunia. Terdapat kesepadanan antara dunia simbol atau bahasa dengan dunia luar. Di sini, Russell menerapkan logika formal dan sekaligus logika material sebagai ciri dan cara kerja metode ilmiah.[15]
Berasarkan konsep atomisme logis tersebut, Russell kemudian menjelaskan tentang adanya dua proposisi dalam suatu kalimat yakni, proposisi atomis dan proposisi molekuler atau majemuk. Suatu proposisi terdiri dari kata-kata yang menunjukkan data inderawi dan universalia atau ciri-ciri atau relasi-relasi.
Sebagai contoh sebuah data indera yang disebut ‘putih’. Data tersebut ditunjukan dengan nama diri yang logis. Proposisi macam ini oleh Russel disebut sebagai proposi atomis, karena tidak mengandung unsur-unsur molekul atau majemuk. Namun demikian, kata ‘putih’ itu sendiri berdiri di samping warna merah, biru, hitam dan lain sebagainya. Oleh sebab itu suatu proposisi atomis dengan sendirinya mengungkapkan fakta atomis tentang dunia.
Jika suatu proposisi atomis itu benar-benar menggambarkan dunia fakta, maka proposisi molekuler dengan sendirinya menjadi benar, karena ia menggambarkan suatu dunia fakta. Tidak mungkin dikatakan benar, jika suatu kalimat tidak mengandung suatu proposisi yang menggambarkan fakta. Tidak juga dikatakan benar, jika ia tidak mengandung fakta-fakta atomis.
Kita kita dapat membentuk proposisi majemuk, misalnya dengan memakai kata ‘dan’, ‘atau’, dan sebagainya. Tetapi perlu diingat, bahwa tidak ada fakta majemuk atau molekuler.
Namun demikian, Russell juga harus mengakui adanya suatu proposisi yang tidak bergantung pada adanya proposisi atomis. Misalnya, proposisi yang menyatakan bahwa semua manusia akan mati. Adanya proposisi ini tidaklah bergantung pada rangkaian si A akan mati, si B akan mati, dan seterusnya, melainkan bergantung pada fakta umum.
Contoh lain adalah proposisi yang mengatakan ‘tidak ada kuda yang berkaki sepuluh.’ Proposisi ini hanya bisa menjadi benar atau tidak benar berdasarkan siati fakta.[16]
Begitu juga dengan proposisi negatif seperti ungkapan tidak ada angsa yang tidak putih, yang kebenarannya bergantung pada suatu fakta bahwa tidak ada angsa yang tidak berwarna putih. Dengan demikian harus menerangkan proposisi yang negatif.[17]
Selanjutnya, Russell berpendapat bahwa dunia itu memunyai struktur yang sesuai denga logika matematik yang gramatikanya itu sempurna. Dengan masalah ini pengertiannya lain dengan gramatika tata bahasa ilmiah atau gramatika bahasa-bahasa biasa yang menyesatkan dan tidak memadai sebagai cara pengungkapan untuk mendapat kebenaran.[18]

Kelemahan Atomisme Logis

Atomisme logis yang disusun Russell memiliki kelemahan yang tampak dari ketidakkonsistennya dalam menolak metafisika. Karena tak dapat disangkal, atomisme logis mengandung suatu metafisika, sebab teori ini ingin menjelaskan struktur hakiki dari bahasa dan dunia. Atau dengan kata lain, teori ini mau mengatakan bagaimana akhirnya dengan realitas seluruhnya.
Mengatakan bahwa dunia ini diasalkan pada fakta-fakta atomis, jelas sekali merupakan suatu pendapat metafisis. Pendapat Russell tersebut juga terlihat jelas, tidak berdasar pada data-data empiris, melainkan suatu analisis tentang bahasa.
Atomisme logis juga menggunakan suatu kriteria untuk menentukan makna. Suatu proposisi disebut bermakna hanya jika dapat ditunjukkan suatu fakta atomis yang sepadan dengannya. Tapi sudah jelas bahwa proposisi yang dirumuskan dalam atomisme logis itu sendiri tak dapat disamakan dengan jenis proposisi lain. Tak ada fakta atomis yang membuat proposisi-proposisi yang membentuk teori atomisme logis itu menjadi benar atau salah. Akibatnya, perlu disimpulkan bahwa proposisi-proposisi atomisme logis itu sendiri tidak bermakna.[19]


Daftar Pustaka

- Bertens, K, Filsafat Barat Kontemporer Inggris-Jerman, Gramedia, Jakarta,2002
-  Hidayat, Asep Ahmad, Filsafat Bahasa, Rosda Karya, Bandung, 2006
- Harry Hamersma, Tokoh-Tokoh Filsafat Barat Modern, Gramedia, Jakarta, V, 1992
-  Kaelan M. S. ,Dr, Filsafat Bahasa, Paradigma, Yogyakarta, 1998
-  Munasir, Rizal, Filsafat Analitik,, Rajawali Press, Jakarta, 1987


[1] Asep Ahmad Hidayat, Filsafat Bahasa, Rosda Karya, Bandung, 2006, hal 41
[2] Kaelan, Filsafat Bahasa, Paradigma, Yogyakarta, 1998, hal 88
[3] Asep Hidayat, Filsafat Bahasa, Rosda Karya, Bandung, 2006, hal 45
[4] Kaelan, Filsafat Bahasa, Paradigma, Yogyakarta, 1998, hal 87
[5] Asep Hidayat, Filsafat Bahasa, Rosda Karya, Bandung, 2006, hal 48
[6] Harry Hamersma, Tokoh-Tokoh Filsafat Barat Modern, Gramedia, Jakarta, V, 1992, hal 134
[7] Kaelan, Filsafat Bahasa, Paradigma, Yogyakarta, 1998, hal 87
[8] K. Bertens, Filsafat Barat Kontemporer Inggris-Jerman, Gramedia, Jakarta, 2002, hal 30
[9] Asep Hidayat, Filsafat Bahasa, Rosda Karya, Bandung, 2006, hal 49
[10] Kaelan, Filsafat Bahasa, Paradigma, Yogyakarta, 1998, hal 94
[11] Rizal Munasir, Filsafat Analitik,, Rajawali Press, Jakarta, 1987, hal 40
[12] K. Bertens, Filsafat Barat Kontemporer Inggris-Jerman, Gramedia, Jakarta, 2002, hal 30
[13] Asep Ahmad Hidayat, Filsafat Bahasa, Rosda Karya, Bandung, 2006, hal 50
[14] Asep Ahmad Hidayat, hal 51
[15] Asep Ahmad Hidayat, hal 52
[16] K. Bertens, Filsafat Barat Kontemporer Inggris-Jerman, Gramedia, Jakarta,2002, hal 31
[17] Asep Ahmad Hidayat, Filsafat Bahasa, Rosda Karya, Bandung, 2006, hal 53
[18] Kaelan, Filsafat Bahasa, Paradigma, Yogyakarta, 1998, hal 49
[19] K. Bertens, Filsafat Barat Kontemporer Inggris-Jerman, Gramedia, Jakarta,2002, hal 32

1 komentar:

  1. 1xbet - No 1xbet Casino | Live dealer casino online
    1xbet is a reliable communitykhabar casino site that 1xbet login offers a great casino games from the best software providers herzamanindir for the regulated gambling markets. Rating: 8/10 · ‎Review by a Tripadvisor user · ‎Free · septcasino.com ‎Sports

    BalasHapus