Selasa, 29 November 2011

Kehadiran Sebagai Metodelogi Tasawuf

Dalam kitab Al-Munqidz min adz-Dhalal, Al-Ghazali dengan terperinci menuliskan otobiogafi intelektualnya. Ia menggambarkan pos-pos intelektual yang telah ia lewati, dimulai ketika ia kalam (teologi), filsafat, sampai tasawuf. Banyak kalangan menilai pada saat pos terahir ini Al-Ghazali telah berpaling dari teologi dan filsafat kepada tasawuf. Namun di sini, saya, penulis sepakat dengan pendapat yang mengatakan Al-Ghazali tidak berpaling dari filsafat.
            Sebagaimana Descrates dalam tradisi filsafat Barat, begitu pula Al-Ghazali. Mereka sama-sama hendak menemukan kebenaran yang sesungguhnya. Jika Descrates mencarinya dengan meragukan segala hal hingga sampai pada titik yang tak dapat diragukan lagi, Al-Ghazali tidak demikian. Menurutnya kebenaran yang hakiki hanya bisa ditemukan dan diyakini orang yang merasakan dan mengalami sesuatu. Tentu saja penjelasan tentang penemuan kebenaran Al-Ghazali tak sesederhana ini. Di sini tidak kami jelaskan secara detail karena fokus pembahasan makalah ini bukan pada hal tersebut.
            Cara Al-Ghazali menemukan kebenaran itu disebut dengan istilah intuisi, sebuah usaha pencapaian kebenaran yang bertumpu pada hati. Intuisi memungkinkan pengenalan pada objek tanpa perantara. Itulah bedanya metode intuisi ini dengan persepsi akal. Jika akal masih membutuhkan perantara dalam mengenali objeknya, persepsi intuituf dapat menembus lansung ‘jantung’ objeknya. Menurut para sufi, akal tak sanggup menyentuh realitas yang sejati. Sebagaimana diungkapkan Rummi dengan sebuah pertanyaan retoriknya, “Bisakah Anda menyunting mawar dari kata M.A.W.A.R? Tidak, Anda baru menyebutkan nama,” kata Rummi. “Carilah yang empunya nama.” Lebih lanjut Rummi mengungkapkan, akal dengan logika sebagai andalannya ibarat kaki palsu yang terbuat dari kayu. Padahal kita tahu, kaki palsu adalah selemah-lemahnya kaki.
            Pengenalan intuitif juga disebut dengan ilmu huduri. Sebab dalam prosesnya pengenalan tersebut terjadi secara langsung. Dalam penelitiannya, objek dan subjeknya tak terpisahkan. Sang objek hadir langsung dalam jiwa subjek. Misalnya cinta, tidak dapat dipahami secara diskursif, berapapun buku teori Anda kuasai tentang cinta. Sebab cinta hanya bisa dipahami melalui pengalaman secara langsung. Contoh lain yang juga diungkapkan Rummi adalah jika anda ingin mengetahui api secara intuitif, panggang (sentuhkan) tubuh Anda di atas api, bukan dengan membaca literatur tentang api. Begitu halnya dengan dzikir yang sering dilakukan para sufi. Jika ingin merasakan dan mendapatkan apa manfaat dari dzikir, bukanlah dengan membaca buku-buku tentang dzikir, melainkan melakukannya dengan penuh keikhlasan dan mengikuti hal-hal yang disyaratkan semisal membersihkan jiwa melalui bimbingan yang telah ditentukan.
            Pengetahuan setiap orang terhadap dirinya sebagai maujud pelaku persepsi adalah pengetahuan yang tak dapat disangkal.  Para sopis yang menganggap manusia adalah ukuran segala sesuatu pun tak menyangkal keberadaan dirinya sendiri dan pengetahuannya tentang hal tersebut.

Objektivitas Metodelogi Tasawuf

Aliran atau tarekat-tarekat dalam tasawuf, sebagaimana kita tahu sangat banyak  jumlahnya. Terdapat maqam-maqam tertentu dalam tiap tarekat yang menunjukkan seberapa tinggi atau dekat seorang sufi dalam bergumul dengan Kebenaran Sejati. Sepintas, antara tarekat satu dengan lainnya terlihat saling berlainan. Terlebih pengalaman seorang sufi, yang hanya bisa dirasakan oleh sang empunya pengalaman, membuat kebenaran metodelogi para sufi ini terlihat begitu tak jelas. Karena itu banyak yang meragukan ojektivitas pengetahuan yang didapat oleh para ahli tarekat ini. Tapi bila diamati lebih teliti, akan terlihat secara fundamental kesamaan diantara ajaran mereka.
Pertama, meski tampak berbeda, para sufi memiliki struktur dan subtansi ajaran yang sama. Sehingga siapapun tokoh yang ditampilkan bisa menjadi wakil atau juru bicara mereka. Kedua, sekalipun Al-Farabi tidak memiliki tarekat seperti Syeh Abdul Qadir Jailani dan sebagainya, tetapi ajaran wihdatul wujudnya begitu berpengaruh bagi semua para sufi sesudahnya. Kemudian bicara mengenai kehadiran Tuhan, semua tarekat memiliki konsep tersebut, meski kadang dengan istilah yang berbeda-beda.
Dalam tradisi pemikiran Barat, yang sangat positivis dan materialistis, metodelogi yang digunakan kaum sufi ditolak mentah-mentah. Hal itu karena dianggap tidak objektif dan besifat sangat subjektif. Namun dijelaskan Guru Besar Filsafat Islam UIN Jakarta Mulyadi Kartanegara, pengalaman mistik sufi sebagaimana pengalaman-pengalaman manusia lainnya, tak hanya memiliki unsur subjektif tapi juga objektif. Sebab pengalaman tersebut merupakan pengalaman riil manusia, seperti halnya pengalaman indrawi, baik mental maupun rasional. Sebagai contoh mimpi, meski bersifat subjektif, tapi memiliki objektivitas seperti diantaranya, setiap orang pasti sepakat bahwa melihat semua objek mimpi itu bukan dengan mata fisiknya. Dan masih banyak contoh lainnya.
Tak dapat dipungkiri, masalah objektivitas sangat dikuasai pemikiran Barat. Dimulai sejak Agust Comte melahirkan teori positivismenya. Pengaruh tersebut sangat kuat hingga sekarang. Hingga untuk menentukan segala sesuatu harus diteliti dulu objeknya, apakah bisa diindra, diukur dan seterusnya. Tapi keoptimisan tersebut terbantahkan oleh Enstein dengan penemuannya teori relativismenya. Menurut Enstein, betapapun akuratnya sebuah ukuran, ia tak bisa lepas dari unsur subjek. Bahkan subjek telah menjadi bagian tak tepisahkan dari realitas fisik. Berbicara tentang apa pun, sangat sulit bagi manusia untuk dapat lepas dari subjektif. Oleh karenanya, hendaklah jengan menjadikan objektivitas sebagai sarat mutlak ilmu pengetahuan.[MS WIBOWO]

Daftar Pustaka
§         Soleh, Achmad Khudori, Terj. Kegelisahan Al-Ghazali, Pustaka Hidayah, Bandung, 1998
§         Kartanegara, Mulyadi, Menyibak Tirai Kejahilan, Mizan, Bandung, 2003
§         Kartanegara, Mulyadi, Gerbang Kearifan, Lentera Hati, Jakarta, 2006
§         Yazdi, M. Taqi Mishbah, Buku Daras Filsafat Islam, Mizan, Bandung, 2003

Tidak ada komentar:

Posting Komentar