Filsafat China
Oleh Hasan Albana
Pendahuluan
Kebudayaan dan peradaban China merupakan salah-satu dari peradaban tertua di dunia, di samping Mesir, Babilonia, Aztec, dan Yunani. Sejak ribuan tahun yang lalu, bangsa China telah bersentuhan dengan kebudayaan bangsa asing. Terutama melalui perdagangan, di mana China terkenal dengan suteranya.[1]
Melalui persentuhan tersebut terjadilah proses pertukaran, yang tak hanya terkait materi namun juga khazanah keilmuan dan kebudayaan. Dalam hal ini tentu saja China juga menebar pengaruh kebudayaannya. Hingga pada masa Dinasti Tang (618-907), negara-negara di wilayah Asia Timur, seperti Jepang, Korea, Tibet, dan Vietnam, pada tingkatannya masing-masing menerima dan mengakui supremasi kebudayaan dan peradaban China.
Kesuksesan China menancapkan pengaruhnya terulang pada masa Dinasti Ming (1368-1644), yang mana China berhasil mengirimkan ekspedisi kapal ke berbagai negara sejauh Afrika, Australia dan Asia Tenggara. Akan tetapi berbeda dengan bangsa Barat, ekspedisi China ke berbagai negara ini tidak menghasilkan kolonialisasi. Masalah ini menjadi perdebatan di kalangan sejarawan, mengapa China sebagai salah-satu aktor globalisasi tidak menghasilkan kolonisasi.[2]
Meski demikian, dapat kita lihat bersama, di antara kelima bangsa pemilik peradaban tertua di dunia seperti tersebut di atas, peradaban dan kebudayaan China adalah yang termasuk masih bertahan hingga sekarang. Semua itu tak lepas dari spirit atau semangat bangsa China, yang kurang lebih tersirat dari kalimat, meraja di dalam dan jaya di luar.
Di samping itu, terjaganya peradaban China tak lepas dari Confucianisme, yang mereka pegang erat hingga sekarang. Sebuah pandangan dan falsafah yang bersumber dari seorang tokoh filsuf bernama Confucius.
Confucius lahir pada tahun 551SM di negara kecil Lu, yang saat ini bernama Shantung. Ketika berusia muda, ia tidak berpangkat dan hidup sederhana. Ia harus mencari nafkah sendiri dalam pekerjaan-pekerjaan yang sedikit banyak bersifat perbudakan.
Kepahitan-kepahitan hidup yang dialami Confucius, membuatnya begitu dekat dengan kalangan menengah ke bawah. Ia merasakan bagaimana penderitaan kebanyakan rakyat yang memprihatinkan. Ia merasa bahwa dunia telah rusak susunannya secara menyedihkan dan perlu sekali perubahan besar-besaran.
Banyak murid-murid Confucius, yang nantinya menjadi confucianisme, dan menyebarkan pandangannya lebih luas. Meski dalam beberapa hal banyak perbedaan pandangan yang mewarnai mereka.
HG. Creel menyebutkan, Confucius bukanlah sosok yang fasih berbicara. Namun di hadapan seorang atau kelompok-kelompok kecil ia merupakan seorang pembicara yang memiliki dayat tarik luar biasa.[3]
Secara berangsur-angsur sejumlah orang tertarik dan kemudian menjadi murid-muridnya. Dari situlah Confucius mulai mengajar dan mendirikan semacam lembaga pendidikan.
Confucius tak pandang bulu dalam menerima murid. Ia tak hanya mengajar kaum bangsawan tapi juga rakyat biasa. Menurutnya, setiap orang bisa menjadi ‘chun tzu’ tanpa memperhatikan masalah keturunan.
Di masa itu, istilah ‘chun tzu’ mengacu pada arti kata dalam bahasa Inggris, ‘gentleman’. Istilah ini juga mengacu kepada seseoarang yang berketurunan baik-baik, yang leluhurnya berasal dari kalangan di atas penggembala biasa. Orang semacam itu adalah orang yang ‘chun tzu’ secara keturunan. Tak ada hal lain yang dapat mengubahnya, meski prilakuknya buruk sekalipun.
Confucius berusaha mengubah dan mengganti makna kata ‘chun tzu’ tersebut. Ia mengatakan, setiap orang bisa menjadi ‘chun tzu’ jika prilakunya baik dan mulia. Di pihak lain ia juga mengatakan, tak seorang pun bisa menjadi ‘chun tzu’ berdasarkan keturunan. Karena ini semata-mata mengacu pada masalah prilaku dan watak.
Confucius juga berkeyakinan, setiap orang bisa menjadi ‘chun tzu’ tanpa memandang keturunan ini bukan sekadar teori. Karenanya ia mengupayakan agar setiap muridnya menjadi chun tzu, serta menerima murid dari segala kalangan.[4]
Hsun Tsu; Rasionalis Confucianisme
Salah-seorang penganut Confucius adalah Hsun Tzu. Ia lahir pada sekitar 300SM, di negara Chao, di wilayah barat laut China. Ia belajar filsafat di negara Ch’i. Di situlah ia mendapat gelar sarjana dan mendapat jabatan di istana.
Pada masa itu, di istana Ch’i, terdapat banyak orang yang mewakil beragam pandangan filsafat. Karena itu terjadilah saling bantah di antara mereka berhubungan dengan pandangan-pandangan mereka.
Barangkali dari situ, tulis H.G. Creel, Hsun Tzu memiliki banyak musuh. Hingga akhirnya ia terpaksa meninggalkan negara Ch’i. Kemudian ia diangkat sebagai salah-seorang pembesar pemerintahan di negara Ch’u yang terletak di selatan. [5]
Kodrat Asali Manusia Adalah Buruk
Salah-satu hasil pikiran Hsun Tzu yang cukup kontraversial adalah saat secara tegas Hsun Tzu menyatakan bahwa kodrat manusia adalah buruk.
Ia mengatakan kodrat manusia adalah buruk. Apapun kebaikan yang baik yang terdapat dalam dirinya adalah akibat latihan yang diperolehnya. Manusia lahir dengan kesukaan atas keuntungan. Jika kecenderungan ini diikuti, maka mereka akan gemar bertengkar serta rakus, sama sekali tidak mengenal basa-basi dan tidak memperhatikan orang lain.
Sejak lahir manusia penuh dengan sifat iri dan benci terhadap orang lain. Apabila sifat-sifat ini dikekang mereka menjadi ganas serta keji, sama sekali tidak memunyai ketelusan dan i’tikad baik.
Saat dilahirkan, manusia membawa serta kesenangan melalui telinga dan mata, kesukaan akan bunyi dan warna. Jika ia berbuat seperti apa yang ia diinginkan oleh hal-hal tersebut, maka ia akan menjadi jangak serta resah, dan tidak memperhatikan li atau keadilan atau sikap tengah-tengah. Perlu ditegaskan di sini bahwa li merupakan salah-satu sistem prinsip mengenai prilaku yang diajarkan oleh Confucius.[6]
Berbuat sesuai kodrat manusia, menurut Hsun Tzu adalah sejalan dengan naluri yang menimbulkan kesukaan bertengkar, ketamakan dan keresahan yang menyebabkan umat manusia mengalami suasana penuh kekerasan.
Ia juga mengatakan bahwa hanya dengan bimbingan para guru dan hukum serta li atau keadilan, manusia dapat menemukan basa-basi serta kebijaksanaan.
Dari itu Hsun Tzu menyimpulkan kodrat asli manusia adalah buruk. Manusia bisa menjadi baik hanya jika ia mau mengikuti latihan dan terus menempa diri. Dengan begitu, manusia akan memperoleh pengetahuan dan dapat mengubah dirinya menjadi baik.
Seperti umpama pedang yang tumpul, harus digosok atau diasah supaya menjadi tajam. Begitu pula dengan manusia, harus digarap para guru dan hukum serta dilengkapi li agar menjadi manusia yang jujur dan tertib. Tanpa guru dan hukum, manusia akan mementingkan diri sendiri, jahil dan tidak adil. Tanpa mengenal li serta keadilan, mereka susah diatur, suka memberontak dan resah.
Dalam pembahasan mengenai kodrat manusia ini, Hsun Tzu bertentangan bahkan menolak argumen Mencius, seorang penganut confucianisme juga, yang mengatakan, kenyataan manusia dapat belajar membuktikan kodrat asali manusia adalah baik.
Menurut Hsun Tzu, Mencius tidak memahami apa yang dimaksud dengan kodrat manusia. Mencius tidak bisa membedakan secara benar atau jeli antara kodrat asli dengan watak yang diperoleh kemudian.
Kodrat manusia adalah apa yang telah dikarunikan Tuhan sejak lahir. Ini tak dapat diupayakan ataupun dipelajari. Sesuatu yang bisa dipelajari dan diupayakan adalah watak yang diperoleh kemudian, bukan asali.[7]
Kodrat manusia yang dimaksud Hsun Tzu setara dengan orang yang lapar pasti ingin menjejali mulutnya dengan makanan, orang bekerja yang harus istiraha. Akan tetapi ada beberpa orang yang menahan laparnya demi mendahulukan orang yang lebih tua atau kurang mampu. Hal ini bertentangan dengan kodrat manusia. Jika ia menuruti kodratnya, maka saat ia lapar, ia akan melahap saja makanan dihadapannya tanpa peduli orang tua atau yang kurang mampu.[8]
Lebih lanjut, Hsun Tzu menekankan, manusia tidak hanya buruk menurut kodratnya saat dilahirkan, melainkan setiap manusia juga dilahirkan sama. Orang baik, orang kebanyakan, raja yang paling buruk, jahat atau raja yang mulia, juga seorang bijak, pada mulanya dilahirkan dalam kondisi dan tingkatan yang sama.
Semua orang mengawali hidupnya, dengan potensi, kecakapan, pengetahuan dan kemampuan yang sama. Semua orang menyukai keuntungan dan membenci kerugian. Menginginkan kehormatan dan membenci kehinaan. Orang yang paling awam di muka bumi ini dapat menjadi orang yang paling bijaksana dengan mengamalkan kebaikan.
Seperti terpapar di atas, untuk menjadi baik dan bijaksana, manusia harus ditempa li dengan bimbingan para guru. Jika tidak, maka manusia akan tetap pada kodrat aslinya, yakni buruk.
Namun secara tak langsung, pernyataan ini mengandung kontradiksi. Jika manusia tidak dapat menemukan atau menjadi baik tanpa bantuan gemblengan seorang guru, lalu dari mana kebajikan berasal? Atau pertanyaannya, bagaimana mungkin ada orang pertama yang menemukan kebaikan, sementara kodrat asali yang ada itu adalah buruk, sementara semua manusia dilahirkan dengan tingkat, potensi dan kemampuan yang sama?
Di sini tampak terdapat pertentangan terkait pernyataan-pernyataan Hsun Tzu. Namun ia berusaha menjawab hal tersebut dengan mengatakan, segenap li dan keadilan dihasilkan dari latihan-latihan, yang dilakukan oleh manusia-manusia bijaksana, bukan dari kodrat asli manusia.
Para manusia bijak dapat menghasilkan li serta keadilan, menetapkan undang-undang, serta aturan-aturan, semata-mata berkat pemikiran yang sangat lama dan pengalaman yang bersunggung-sunggung. Karenanya, menurut Hsun Tzu, hal itu bukan berasal dari kodrat asali manusia.[9]
Tentu saja jawaban itu tidak memuaskan. Selain bertentangan dengan doktrin Hsun Tzu yang menyatakan manusia hanya dapat memperoleh li dengan bimbingan seorang guru, hal itu juga malah mendekat dengan salah-satu argumen Mencius, yang menyatakan, salah-satu bukti bahwa kodrat asali manusia itu baik ialah bahwa manusia memiliki kemampuan dan hasrat untuk menuntut ilmu.
Tuhan dan Li Menurut Hsun Tzu
Hsun Tzu tidak mengesampingkan gagasan ketuhanan. Tapi ia mendefinisikan ulang konsep ketuhanan itu. Menurutnya, Tuhan sekadar tatanan alam. Dia tak pernah campur tangan dalam menjalankan hukumnya, melalui mu’jizat misalnya. Tuhan adalah tatanan alam dan orang harus memelajari hukum-hukum Tuhan dan berbuat sesuai dengan hukum-hukum tersebut.
Sementara itu Li, menurut Hsun Tzu diciptakan para raja bijaksana, namun bukan diciptakan dengan semau-maunya. Li memberikan keindahan, kepentingan, irama serta pengendalian terhadap seluruh aktivitas manusia.
Pemuja Rasionalitas
Hsun Tzu hampir sepenuhnya mengesampingkan faktor keagamaan. Hal ini bukan hanya dari wawasannya mengenai li tapi juga seluruh pemikirannya. Hantu, menurutnya hanya dibayangkan oleh mereka yang pikirannya rancu, padahal mereka tidak benar-benar melihatnya. Hsun Tzu juga memberi contoh, jika seseorang berdoa meminta turun hujan lalu hujan pun turun, itu bukan karena doanya. Meskipun orang tidak berdoa hujan juga akan turun.
Tak hanya itu, Hsun Tzu mengkritik Mo Tzu (pemikir China juga) yang menganggap, hasil panen yang baik dan kemujuran merupakan pertanda Tuhan membenarkan kebijakan seorang penguasa yang baik. Sebaliknya jika bencana berulang kali melanda sebuah negara.
Bagi Hsun Tzu, yang harusnya diamati dan diselidiki adalah bagaimana seorang penguasa memerintah. Sudahkah sesuai dengan keinginan rakyat, apakah rakyat sejahtera atau menderita. Bukan dengan mengamati datangnya bintang berekor atau gerhana bulan.
Rasinalitas Hsun Tzu juga terlihat dalam menyikapi upacar-upacara kurban. Baginya, itu tak ada bayang-bayangnya seperti pahala di akhirat. Upacara ini layak dihargai karena nilai kemasyarakatannya untuk menyalurkan perasaan dengan cara yang sudah diakui dan bermanfaat.
Filsafat Bahasa
Di antara buah pikir Hsun Tzu adalah teori-teorinya tentang bahasa. Ini cukup menarik, mengingat bahasa, merupakan bahasan para filsuf Barat kontemperer.
Hsun Tzu membahas masalah-masalah yang mengguncang para filsuf, bahkan hingga saat ini. Ia mempertanyakan, “Apakah kata itu? “Apakah pengertian itu?” “Bagaimanakah asal mulanya?” “Mengapakah begitu besar perbedaan pendapat orang mengenai itu dan mengenai pemakaiannya?” pertanyaan-pertanyaan macam itu merupakan pertanyaan-pertanyaan yang masih kita hadapi saat ini. Dan itupulalah yang dihadapi Hsun Tzu waktu itu.
Hsun Tzu mengajukan berbagai pertanyaan mengenai soal bahasa dan berusaha mencari jawabannya.
“Mengapa segala sesuatu punya nama?” Jawabannya adalah sesungguhnya nama-nama dibutuhkan sebagai kemudahan untuk berbicara mengenai hal-hal dan peristiwa-peristiwa.
Nama-nama diciptakan oleh manusia untuk memenuhi keperluannya itu. kita memerlukan nama-nama untuk memungkinkan kita memilah-milah antara hal-hal yang berharga dan kurang berharga.
“Apakah yang merupakan dasar persamaan dan berbedaan?” Ini juga merupakan salah-satu pertanyaan Hsun Tzu dalam teori bahasanya. Dan jawabannya adalah kesaksian alat-alat inderawi.
Hsun Tzu mengatakan, setiap hal dipandang termasuk kelas yang sama jika alat-alat inderawi menyatakan hal-hal tersebut sama dengan objek pikiran, yang telah dibentuk seseorang untuk mewakili objek tersebut.[10]
Hsun Tzu juga meyakini bahwa nama-nama seseorang tidak ditetapkan secara ilahiah. Baginya, nama-nama tidak secara batiniah disesuaikan dengan hal-hal yang diwakilinya. Manusia sekadar mencapai persetujuan bahwa mereka akan memakai nama-nama tertentu untuk menyebut hal-hal tertentu.
Ketika sudah ditetapkan nama-nama itu dan kebiasaan itu sudah mantab, maka nama-nama tersebut disematkan kepada yang memadai. Nama-nama yang baik, menurut Hsun Tzu, adalah nama-nama yang sederhana, langsung, mudah dipahami dan tidak rancu.[11]
Kelas Masyarakat Dalam Negara Adalah Keniscayaan
Hsun Tzu sepakat dengan pembagian kelas masyarakat. Pembagian ni bukan dalam rangka penindasan terhadap yang lemah. Melainkan menjaga negara dari kekacauan.
Menurut Hsun Tzu, jika semua orang berada pada kekuasaan yang sama, maka sama halnya tak ada kekuasaan/pemerintahan. Pengandaian lain, jika setiap orang punya kekuasaan yang sama, lalu menyukai atau tidak menyukai hal yang sama, maka akan terjadi perebutan dan kekacauan. Pembagian kelas itu sudah sewajarnya, sebagaimana ada langit ada bumi.
Gagasan Hsun Tzu tentang pemerintahan pada dasarnya sama dengan Confusicianisme, pemerintahan adalah untuk rakyat bukan untuk penguasa. Tindakan penguasa yang memelaratkan rakyat dan para sarjana, berarti memancing malapetaka.
Fungsi penguasa adalah memilih mentri yang bajik dan mempu menjalankan tugasnya secara baik tanpa melihat hubungannya dengan dia dan tanpa pilih kasih. Seorang yang bajik tak dapat diganggu gugat. Sebaliknya, penguasa yang jahat bukan lagi penguaasa dan harus diturunkan dari singgahsana.
Strategi Perang Hsun Tzu
Di antara yang termasyhur dari Hsun Tzu adalah strategi perangnya. Karya yang sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa tersebut lebih di kenal dengan "The Art of Warfare". Dalam beberapa literatur, nama Hsun Tzu ditulis dengan Sun Tzu.
Buku The Art of Warfere tersebut merupakan terjemaahan dari berbagai temuan arkeologis di beberapa tempat di Cina dari waktu yang berbeda. Yang pertama, Naskah 13 Bab Intii dari Hsun-Tzu Chiao-shih yang diedit oleh Wu Chiu-Lung dan kawan-kawannya. Terbitkan pada tahun 1990.
Naskah kedua, dari lima bab tambahan yang ditemukan dari makam-makam Han di gunung Silver Mountain volume 1, yang disusun oleh Komite Rekonstruksi Tulisan-tulisan Han di Yin-ch’ueh-shan, serta diterbitkan oleh Wen-wu Publishing House, 1985.
Kemudian bahan-bahan ensiklopedia yang diterjemaahkan dari lampiran-lampiran Hsun-tzu hui-chien karya Yang Ping-an (1986) dan Hsun-tzu tao-tu karya Huang K’uei (1989) yang didasarkan pada koleksi dinasti Ch’i dari Pi I-hsun, Sun-tzu hsu-lu (Surat penghargaan Dari Sun Tzu).
Koleksi dinasti Ch’ ini telah disusun dari tulisan-tulisan bambu dari dinasti Western Han yang ditemukan pada tahun 1978 dalam makam ke-115 dari kompleks keluarga Sun di kabupaten Ta-t’ung, provinsi Ch’ing-hai. Selanjutnya, Wang Jen-chun, Sun-tzu i-wen (naskah yang tidak diterbitkan , yang dilestarikan dalam catatan sejarah di perpustakaan Shanghai).
Terjemaahan atas temuan-temuan arkeologis tulisan-tulisan bambu yang berasal dari berbagai zaman yang berbicara tentang Tsun Hzu. Di dalam pendahuluan buku ini, Profesor Roger Ames yang merupakan salah seorang penerjemaah filsafat China terkemuka di Amerika Serikat, memberikan penjelasan latar belakang filosofis buku Sun-Tzu, karena ia menyadari bahwa karya ini merupakan buku filosofi berperang.
Strategi perang Hsun Tzu tersebut, selain diterjemahkan ke berbagai bahasa, juga diinterpretasikan banyak penulis. Adaptasinya pun beragam. Ada strategi Hsun Tzu yang diterapkan dalam organisasi, manajemen, kepemimpinan, hingga pemasaran.
Dalam literatur China, strategi perang Hsun Tzu memang bukan satu-satunya. Maklum, daratan China, hingga Tibet, selama beribu-ribu tahun menjadi medan pertempuran yang tidak pernah reda. Selalu ada revolusi, ada tokoh yang ingin memproklamasikan raja baru. Sebab itu tak mengherankan apabila strategi perang terbaik lahir di wilayah ini.
Konon, sejak 500 tahun sebelum Masehi hingga 700 tahun sesudah Masehi, atau selama 1.200 tahun, tak kurang ada tujuh literatur strategi perang China yang terdokumentasikan. Literatur tersebut mempengaruhi cara berpikir bangsa China, termasuk para pebisnisnya. Literatur yang paling terkenal memang strategi perang Sun Tzu.
Aplikasi strategi perang dalam dunia bisnis oleh orang China ini juga dapat dipahami, karena ada pepatah China yang populer, "Shang chang ru zhan chang" yang kurang lebih artinya, “pasar adalah medan pertempuran.” Hal itu terlihat dari orang China, yang setelah membuka pasarnya memperlihatkan perilaku yang sejalan dengan pepatah di atas.
Strategi perang Sun Tzu ditulis dalam 13 langkah sederhana. Mulai dari perencanaan perang hingga intelijen. Namun, jika diringkas, ke-13 langkah Hsun Tzu itu, maka inti sarinya ada tiga langkah. Yaitu, mengenal diri Anda dengan baik, mengenal musuh Anda, dan mengenal tempat di mana kita bertarung. Tiga langkah ini sebangun dengan teori positioning dalam pemasaran. Mereka mirip saudara kembar..[12]
[1] I. Wibowo, Belajar Dari Cina, Penertbit Buku Kompas, Jakarta, 2004, hal 11
[2] I. Wibowo, hal 13
[3] H.G. Creel, Alam Pikiran Cina, Tirta Wacana, Yogyakarta, 1989 hal 30
[4] HG. Creel, hal 29
[5] HG. Creel, hal 124
[6] H.G. Creel, hal 128
[7] H.G. Creel, hal 130
[8] H.G. Creel, hal 131
[9] H.G. Creel, hal 131
[10] H.G. Creel, hal 126
[11] H.G. Creel, hal 127
Tidak ada komentar:
Posting Komentar