Diskusi berlangsung tanpa moderator.
Panitia langsung menyerahkan mikrofon kepada saya jelang mulainya acara. Sebab
itu agak gagap pula saya, bingung harus mulai darimana.
Satu hal yang masih selalu muncul
pada tiap pembahasan kultur ushuluddin adalah soal gaya hidup mahasiswanya.
Hingga awal angkat 2007/2008, mahasiswa ushuluddin masih terkenal dengan style
yang nyleneh. Rambut gondrong, sandal jepit dan kaos oblong, yang mana hal itu
bertentangan dengan kode etik mahasasiswa UIN Jakarta.
Sekilas hal macam itu dinilai hanya
seperti sensasi kosong belaka. Namun perlu dicatat, apa yang dilakukan para
mahasiswa ushuluddin tersebut merupakan sentakan atau teror guna menyadarkan,
hendaklah kita kuliah atau belajar itu lebih mengandalkan otak bukan pakaian.
Don’t judge book from the cover.
Rambut gondrong dan sandal juga bisa
diartikan sebagai media pemberontakan atas kungkungan aturan-aturan yang kaku
dan kurang manusiawi. Agar manusia sadar akan dirinya sebagai manusia, bukan
mesin. Bahwa masing-masing kita sebagai manusia itu berbeda, tak bisa
diseragamkan seperti sekelompok hewan atau tumbuh-tumbuhan tertentu.
Tak berhenti di pakaian, seloroh dan
ucapan-ucapan yang terlontar dari mahasiswa ushuluddin kerap kontroversial.
Misalnya ‘Tuhan telah mati’ sebagaimana dalam pemikiran Nietzsche, anjing-Hu
akbar, dan lain sebagainya yang kerap membuat telinga serta perasaan kelompok
tertentu merah dibuatnya.
Sekali lagi itu merupakan teror yang
membuat kita berpikir dan perlu dikaji lebih dalam. Artinya tak semestinya kita
berhenti di situ, pada makna denotatif kalimat tersebut.
Bermacam hal dan persoalan yang
terkait dengan ushuluddin pun terkuak. Mulai dari masa depan kehidupan
mahasiswa dan orang yang menggelutinya dan lain-lain. Perlu dicatat, ushuluddin
yang dimaksud di sini bukan sekadar sebagai institusi atau salah-satu fakultas
yang ada di UIN Jakarta. Lebih dari itu, ushuluddin adalah budaya, ruh
kehidupan umat manusia, atau spirit of human being. Semangat yang diusung
ushuluddin adalah semangat kesadaran dan perubahan.
Manusia bukanlah apa yang tampak dari raga, melainkan dibaliknya, yang
membuat raga itu bergerak, berfikir dan bertindak. Itulah ushuluddin.
Ushuluddin adalah kekuatan tak kasat mata, yang bisa diterima oleh manusia yang
menggunakan akal dan terbuka hatinya. Sehingga untuk menjadi manusia unggul tak
harus berstatus Mahasiswa Fakultas Ushuluddin, melainkan cukup dengan
mengintegrasi nilai dan semangat ushuluddin dalam diri. Tokoh-tokoh seperti Nabi Muhammad, Soekarno, Che Guefara, Galileo, Einsten,
Newton dan sebagainya adalah contoh dari manusia yang memiliki
jiwa Ushuluddin.[msw]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar